Telah Sampailah pada Sebuah Titik

Telah sampailah dia pada titik terbodoh yang pernah disinggahi. Titik di mana dirinya sendiri pun tak mengerti mengapa hal-hal bertahun-tahun silam bisa terjadi. Tak mengerti mengapa dia jatuh begitu dalam hingga nyaris kehabisan oksigen di dasar sana. Tak mengerti mengapa segala upayah dikerahkan hanya untuk memastikan bahwa laki-laki itu berada pada kondisi yang paling baik. Tak mengerti mengapa dia harus mendampingi laki-laki itu menapaki tangga menuju puncak impiannya padahal dia tahu bahwa ada seseorang lain yang dengan anggun menunggunya di atas sana. Tak mengerti mengapa waktu banyak dia habiskan untuk memastikan bahwa laki-laki itu bahagia setiap detiknya. Tak mengerti mengapa dia rela mengabaikan dirinya dan mengutamakan segala kepentingan laki-laki itu.

Telah sampailah dia pada titik keraguan. Ragu untuk membuka mata dan hati kembali setelah melepasikhlaskan debar-debar yang terawat bertahun-tahun silam. Ragu untuk percaya pada baik-baik yang dibangun di lingkungan sekitarnya. Ragu untuk menerima bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dijangkau oleh logika. Meragukan intuisi sendiri.

Telah sampailah dia pada kepasrahan. Menyerahkan segala baik dan buruk pada sang pencipta. Mempercayakan segala kebaikan untuk dirinya kepada sang pencipta. Merapatkan dahi pada karpet lusuh kemudian merapalkan banyak harap dan ingin. Semoga Engkau senantiasa mendengar dan mempertimbang segala harap dan inginnya, Tuhan, sebab satu-satunya dzat yang tak diragukannya hanyalah Engkau.

Sungguminasa, 7 Januari 2017

Sambil menahan gigil
Chaa Chidot

Seseorang Tanpa Genggaman

Pada satu waktu seseorang menggenggam tanganmu tanpa kau tahu. Kepadanya kau kisahkan tentang banyak hal yang ingin kau raih dalam hidupmu, tentang angan dan ingin orang tuamu, tentang hebatnya mimpi-mimpimu. Pada waktu yang sama, dia yang mengenggam tanganmu sedang sibuk menyimak antusiasmu sembari mengatur degup yang semakin tidak beraturan.

Pada waktu yang lain, seseorang merapatkan genggamannya tanpa kau tahu. Memastikan bahwa setiap langkah menuju mimpimu akan terasa menyenangkan bagimu. Memastikan bahwa batu-batu yang kadang menghalang tidak lantas membuatmu berhenti dan berbalik arah. Memastikan bahwa kau menapaki setiap tangga menuju mimpi yang kau gantung tinggi di langit dengan nyaman meski kadang tak aman. Memastikan bahwa segalanya kau lalui dengan penuh syukur.

Pada waktu berikutnya, genggaman lepas perlahan. Ketika segala ingin dan angan telah kau raih, seseorang memilih untuk melepas genggaman. Membiarkan engkau tersenyum dan memeluk seseorang lain di sana, merayariakan keberhasilanmu.

Kini, seseorang berjalan dengan tidak menggenggam sesuatupun dan tak juga mampu mencari tangan lain untuk digenggamnya, lagi.

 

Makassar, 29 Desember 2016

Seseorang yang tidak menggenggam sesuatupun.

Chaa chidot.

Menyesakkan saja!

“Kau tidak pernah bercerita tentang seseorang yang memikat hatimu,” katamu tiba-tiba.

“Kau tidak pernah menanyakannya, bukan?”

“Saya pikir kau tidak pernah terpikat dengan perempuan manapun, tidak pernah saya mendengarmu memuji satu perempuan pun.”

“Lantas, kenapa sekarang kau ingin tahu?”

“Saya hanya penasaran, ketika lelaki seusiamu pada umumnya sedang gemar memuji banyak perempuan, menggoda sana menggoda sini, mendekati yang ini dan yang itu, kau masih saja sibuk dengan dirimu sendiri, menikmati duniamu saja.”

“Kau lupa yaa, saya bukan lelaki pada umumnya.”

“Jadi, kau tidak tertarik pada lawan jenis?”

“Hey! Sembarangan yaa..”

“Hahaha. Tidak pernahkah ada satu perempuan yang menarik perhatianmu?” Kau menopang dagu sambil menatapku lekat. Tatapan itu, tepat di mataku. Mata berbinar yang sering saya nikmati diam-diam kini sedang tertuju padaku.

“Tidak, jika semua perempuan sepertimu; aneh dan menyebalkan.” Saya tertawa lalu segera beranjak dari kursi, mengusap lembut kepalamu kemudian meninggalkanmu dengan wajah yang berubah cemberut. Bahkan dengan wajah yang seperti itu binar matamu tidak pudar, hanya saja ia memang tidak cocok dipadukan dengan wajah cemberut, membuat dada saya terasa ngilu.

Ada sesuatu yang bertengkar dalam dada ketika kita bertemu. Menyesakkan saja!

Sungguminasa, 26 Juli 2015

-Chaa Chidot-

Seperti Saya, Engkau Jatuh dan Patah Hati!

“Kau masih dengannya?” Tanyaku membuka percakapan.
“Sepertinya tidak, dia akan menikah. Dia akan menikah setelah lebaran nanti,” jawabmu.
Ingin sekali kulihat matamu ketika kau menjawabnya, saya berada tepat di belakangmu, di atas motor yang melaju dari tempat kita melepas rasa lapar. Ah bodoh! Mana sanggup saya menatapmu, bukankah saya memutuskan untuk menanyakannya karena saya berada di belakangmu? Ya, saya belum sanggup menanyakannya di hadapanmu, sambil menatapmu.

“Serius? Dengan siapa?”
“Entahlah..”
“Memangnya kau dengar kabar darimana?”
“Dari dia, pesan singkat darinya.”
“Lantas, kau menjawab pesannya?”
“Iya, saya mengucapkan selamat dan meminta maaf karena tidak bisa memperjuangkannya.”

Sebenarnya, berita bahwa dia akan menikah dengan lelaki yang bukan kau sudah saya dengar dari seseorang. Hanya saja, entah kenapa, segala berita tentangmu yang saya dengar dari orang lain selalu ingin saya tahu kepastiannya darimu, langsung darimu.

“Saya sudah mengkonfirmasi berita ini kepada teman dekatnya. Teman dekatnya juga tidak tahu. Tapi, kata teman dekatnya, selama mereka berteman, dia perempuan yang tidak pernah berbohong. Jadi, kemungkinan besar berita ini benar.” Katamu melanjutkan.
“Hmm, are you okay?”
“Tidak masalah. Jika dia bahagia, saya juga turut bahagia.”
“Bohong! That’s a common bullshit! Saya termasuk orang yang tidak percaya dengan kalimat itu.”

Entah dengan alasan apa, saya ingin memastikan bahwa kau patah hati. Saya tahu kau patah hati, kau hanya tidak mau mengakuinya!

Dengan lugas kau menceritakan semuanya pada saya, semua yang ingin saya tahu. Awal kau bertemu, jatuh hati dan berniat menikahinya, hingga rencana kalian setelah menikah.

Dalam beberapa forum kalian bertemu, saling sapa kemudian saling mengagumi. — Tuan, dalam banyak forum kita bertemu, berbincang, kemudian saya mengagumimu. Bedanya, tidak ada kata ‘saling’ di sini. Tidak ada!

Toko buku menjadi tempat pertama kali kalian bertemu hanya berdua. Hanya kau dan dia. — Tuan, toko buku yang sama menjadi tempat pertama kali kita meluangkan waktu berdua, bepergian hanya berdua. Bedanya, hanya saya yang mengingat ini, kau pasti tidak. Benar-benar tidak ingat!

Dengan jujur dan polosnya dia mengatakan bahwa jantungnya berdebar kencang ketika berdua denganmu. — Tuan, saya menikmati debar jantung ketika denganmu, debarnya mampu membuat saya merasa nyaman. It feels like home! Bedanya, dengan egois saya tidak membiarkanmu tahu tentang ini. Saya menikmatinya sendiri, diam-diam!

Ada bahagia ketika kau bercerita tentang dia yang menulis sesuatu untukmu dengan segala keanehan yang unik pada dirinya. — Tuan, sudah lebih dari satu tulisan saya buat untukmu. Pernahkah kau sebahagia itu ketika membacanya? Seingat saya, tidak pernah!

Dia memintamu untuk menuliskan sesuatu setelah kau memberitahu tentang perasaanmu padanya dan kau melakukannya. — Tuan, berapa kali saya memintamu untuk membuat tulisan, atau sekedar membalas tulisan saya? Jawabmu selalu sama; kau tak pandai menulis. Bahkan katamu, kau lebih senang dengan bahasa lisan daripada bahasa tulisan.

Katamu; Dia bersedia bepergian denganmu karena dia percaya padamu. — Tuan, tidak pernah saya bepergian dengan seseorang dan merasa seaman ketika bepergian denganmu. Denganmu, saya percaya bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang buruk pada saya. Jelas kau tidak tahu tentang ini!

Dia ingin sekali menikmati alam dari ketinggian dan kau berjanji akan mengajaknya ketika kalian telah menikah. — Tuan, ajakan menikmati alam dari ketinggian adalah janjimu ketika kita sedang penat. Kau akan mengajak saya jika segala urusan kita telah rampung. Bedanya, kau berjanji ketika kau sedang penat, bukan ketika kau sedang jatuh hati. Dan saya yakin kau pasti sudah lupa dengan janji itu!

Setidaknya saya bisa menikmati engkau yang sedang jatuh hati, meski bukan kepada saya. Kita tidak jauh berbeda.
Engkau jatuh hati padanya seperti saya jatuh hati padamu. Sekarang, engkau patah hati karena dia memilih lelaki lain seperti saya patah hati karena engkau memilihnya.

Selamat patah hati, tuan!
Seperti inikah rasanya kalah?

Sungguminasa, 19 Juni 2015
-Chaa Chidot-

Hal-hal yang harus dibiasakan

Kamu tahu?
Ketika usiamu sama seperti usia saya sekarang, ada hati yang sedang jatuh-jatuhnya padamu. Ah, kamu pasti tak tahu dan tidak perlu tahu, barangkali.
Hanya saja, dia, perempuan itu, yang hatinya jatuh padamu, sekarang sedang giat mencoba melupakan. Bukan melupakanmu, bukan melupakan kenangan bersamamu. Sebisa mungkin, dia mencoba lupa bahwa hatinya telah jatuh. Sebisa mungkin, dia mencoba lupa bahwa ada hal-hal darinya yang tak bisa lepas darimu. Sebisa mungkin, dia tidak lagi menceritakan banyak hal yang hanya butuh telingamu. Sebisa mungkin, dia lupa bahwa bermain bersamamu adalah hal yang menyenangkan. Sebisa mungkin, dia tidak lagi rutin mencari kabarmu. Sebisa mungkin, dia menerima bahwa ada perempuan lain dengan kualitas yang jauh di atas dirinya yang mampu membuatmu jatuh hati. Sebisa mungkin, dia tidak mencemburui perempuan itu. Sebisa mungkin, dia berbahagia melihat segala pencapaianmu. Sebisa mungkin, dia lupa bahwa hatinya belum dalam kondisi baik-baik saja.

Maka, biasakan dirimu atas banyak hal yang tidak semestinya. Biasakan dirimu atas hal-hal baru yang harus dia biasakan. Semoga dimengerti. 🙂

Kalau Cinta Jangan Gengsi

“Itu, Icha sudah pulang.”

Kalimat pertama yang saya dengar setelah membuka pintu dan memberi salam ketika pulang dari kampus hari ini. Engkau sedang berbicara dengan seseorang yang kemudian saya tahu adalah anak sulungmu. Ponsel diserahkan pada saya.

“Ini, Opiq mau bicara.”

Segera saya mengambil ponsel dari genggamanmu.

Tidak lama, hanya sekitar lima menit saya berbicara dengannya. Anak sulungmu menanyakan apakah saya sudah membeli hadiah atau kue untuk ulang tahunmu hari ini? Dengan sedikit malu, saya katakan ‘belum’ yang diiringi dengan kata ‘kenapa?’ darinya. Saya katakan alasannya dan kemudian disambut baik olehnya. Anak sulungmu meminta saya membeli sesuatu di hari istimewamu.

Tadi pagi, ketika pamit untuk berangkat ke kampus, saya ingat hari ini tanggal tujuh november adalah hari kelahiranmu, hanya saja saya malu (atau mungkin gengsi) untuk sekedar memberi ucapan selamat, padahal anak bungsumu berpamitan sembari mencium pipimu dan mengucapkan selamat ulang tahun.

Ibu, anakmu ini masih terlalu gengsi menunjukkan rasa cintanya padamu, maafkan. Bahkan untuk sekedar bercerita tentang resah dan gelisahnya pun enggan. Bukan, saya bukan tidak percaya, hanya saja saya tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya padamu. Bodohnya lagi, saya lebih tahu cara berkeluh pada orang lain yang mengaku teman, atau pada sosial media yang dapat dibaca oleh banyak orang.

Maka, kali ini akan saya ceritakan sedikit tentang sesuatu pencipta resah, pemicu gelisah saya beberapa hari belakangan. Engkau pasti tak tahu bahwa ada seseorang yang menjadi tempat jatuhnya hati anakmu. Seorang lelaki yang dekat dengan anakmu beberapa tahun belakangan. Bagi anakmu, dia lelaki baik dan menyenangkan. Beberapa hari yang lalu anakmu mendengar kabar bahwa lelaki itu telah jatuh hati pada seorang gadis manis yang (in syaa Allah) baik akhlaknya. Tidak perlu dipaparkan lagi bagaimana desirnya jantung hati ketika kabar itu terdengar. Ingin rasanya sesuatu membasahi pipi, tapi entah mengapa tak ada yang basah hingga saat ini. Ini konyol, betapa anakmu sadar bahwa hatinya telah jatuh tapi tak mengerti cara untuk membuat dia tahu. Lagi-lagi, barangkali ini perkara malu, atau gengsi, atau bisa jadi takut. Kenapa gengsi tumbuh subur pada diri anakmu? Padahal seharusnya, cinta kepada siapapun tak perlu diselimuti dengan gengsi, kan?

Ibu, sekarang anakmu sedang belajar ikhlas, belajar menerima bahwa yang memang bukan miliknya tidak akan pernah menjadi miliknya, pun sebaliknya. Setiap hari, anakmu berusaha mengontrol diri, menahan rasa-rasa yang berlebih di dada. Tenang saja, ibu, hal-hal seperti ini masih bisa saya atasi sendiri tanpa harus merepotkan engkau.

Ah ya, ada berapa kesempatan mencium pipimu dalam setahun? Kalau tidak salah hitung hanya ada empat kesempatan; ketika idul fitri, idul adha, ulang tahun saya, dan ulang tahunmu. Tahun ini, saya dapat bonus satu kesempatan lagi; ketika saya menujumu membawa medali dan mengenakan toga. Terima kasih, saya senang sekali. 🙂

Untuk segala harapmu, sabar saja. Akan segera saya penuhi satu per satu, pelan-pelan. Maaf, hadiah ulang tahun yang engkau berikan untuk saya waktu itu belum sempat dibacatuntaskan, padahal engkau berpesan untuk segera dibaca dan diamalkan. Sesegera mungkin akan saya tuntaskan.

Selamat ulang tahun, ibuku sayang!
In syaa Allah, saya tidak gengsi lagi. Saya mencintaimu, sungguh.

Sungguminasa, 07 November 2014
Dengan segenap cinta,

Annisa Nurul Puteri

Bahasa Indonesia, Saya, dan Penyanyi Kesukaan

Sumpah Pemuda

Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Point ketiga pada sumpah pemuda yang pernah diajarkan di sekolah belakangan menjadi perhatian saya. Beberapa hari yang lalu saya terlibat pecakapan melalui bbm dengan seorang teman yang ditutup dengan kalimat “Bicara sm pecinta buku sama saja bicara sama dosen bhs indonesia *emoticon menguap*”. Saya tersentak dengan kalimat itu, spontan yang terlintas dipikiran adalah semembosankan itukah saya? Ya, saya sering menguap jika sedang bosan dengan celotehan dosen di kelas.

Di dunia, bahasa Indonesia memang tidak setenar bahasa Inggris dan Mandarin. Bahkan ada sekolah berstandar internasional di kota saya yang hanya mengajarkan bahasa Inggris dan Mandarin pada muridnya, tanpa mengajarkan bahasa Indonesia. Saya cukup maklum jika teman-teman lebih tertarik mendalami bahasa Inggris dan Mandarin lantas menganggap bahasa Indonesia begitu mudah dan membosankan karena mereka menggunakannya setiap hari. Tapi, tahukah bahwa Bahasa Indonesia menduduki peringkat ketiga di Asia dan peringkat ke-26 di dunia dalam hal tata bahasa terumit di dunia?

Tidak jarang juga saya mendengar teman-teman berbincang menggunakan bahasa daerah mereka. Sejujurnya, saya tidak begitu senang mendengarnya. Bukan karena mereka menggunakan bahasa daerah, tapi karena mereka menggunakannya di tempat yang kurang tepat. Menggunakan bahasa daerah ditengah orang-orang yang tidak mengerti dengan bahasa tersebut adalah hal yang tidak sopan bagi saya. Sama halnya jika dua orang berbisik-bisik sementara ada orang lain yang tidak dilibatkan.

Baca lebih lanjut