Pada satu sore dibulan ketiga tahun masehi

Pada satu sore yang teduh di pekarangan rumah, anak perempuan sedang menghiasi tanah yang telah di letakkannya pada sebuah wadah kecil mirip panci, dia sedang bermain masak-masakan dan menata bunga-bunga di atasnya sebagai garnish. Sebuah bola sepak yang ditendang oleh seorang anak lelaki membuat dapur yang ditata anak perempuan berantakan sedemikian rupa, tangis pecah diiringi langkah kaki yang kian cepat mendekati saya. Anak perempuan mengadukan perbuatan saudara lelakinya yang telah merusak dapur-dapurannya.

Terdengar suaramu tegas memanggil si anak lelaki dan mengajarinya untuk meminta maaf karena telah merusak permainan saudara perempuannya. Anak lelaki menurut, dia mendatangi saudara perempuannya dan mengulurkan tangan untuk meminta maaf. Anak perempuan masih tersedu dan enggan untuk menerima uluran tangan saudaranya. Saya katakan padanya bahwa hanya orang-orang pemberani yang mau meminta maaf dan hanya orang-orang mulia yang selalu mudah memaafkan. Mereka bersalaman dan saling memaafkan. Kita tersenyum bangga, mereka yang akrab menyapa kita dengan sebutan eyang kakung dan eyang putri kini tumbuh menjadi manusia berbudi luhur.
Engkau kembali duduk dan melanjutkan bacaan lembar demi lembar berita hari ini. Saya mengajak dan membantu dua kakak beradik merapikan mainannya yang berantakan.
Pada satu sore dibulan ketiga tahun masehi, bersama mereka yang kalian sebut cucu.
Sungguminasa, 9 Maret 2017

Sambil merajuk niat belajar,
Chaa Chidot

Saya Tidak akan Menulis Lagi!

Haloo, bagaimana kabar jiwamu di usia yang kesekian tahun ini? Bahagiakah jiwamu? Bagaimana kabarnya perempuan itu? Perempuan yang memantapkan hatimu untuk menyempurnakan agama. Sampaikan salam saya padanya, beruntung sekali dia. Sepertinya saya harus banyak belajar padanya. Iya, belajar meyakinkanmu, belajar menjatuhkan hatimu.

Tahukah bahwa hari itu usaha saya terlalu keras untuk mengabaikan hari kelahiranmu? Barangkali engkau berpikir bahwa saya lupa atau berpikir bahwa saya tidak peduli. Jika demikian maka engkau benar, saya sedang berusaha untuk melakukannya. Melawan semua rasa ingin yang paling ingin. Kau pernah merasakannya? Menginginkan sesuatu tapi merasa tidak pantas untuk memilikinya. Sedih sekali rasanya, sungguh. Kau pernah merasa ingin sekali peduli tapi rasa itu dipaksa bergeser oleh rasa tidak pantas untuk melakukannya? Sakit sekali.

Sudah berapa banyak hari yang kita lalui? Sudah berapa sedih yang kita bagi? Sudah berapa banyak bahagia yang kita rasa? Engkau mungkin tidak ingat, tapi ingatan saya selalu lekat pada segala perihal engkau. Hanya saja, sekarang saya harus melawan semuanya. Melawan pikiran saya yang masih saja dipenuhi engkau, melawan intuisi saya yang masih saja tertuju padamu. Sesak sekali.

Saya ingin kembali ke hari dimana percakapan mulai intens. Jika itu terkabul, saya tidak ingin membahas banyak hal denganmu. Saya tidak ingin bepergian ke banyak tempat denganmu, saya tidak ingin melekatkan tatap pada matamu yang binarnya mampu melemahkan jantung saya. Saya tidak ingin berbalas pesan singkat disetiap fajar mulai menyapa. Saya menyesal, padahal saya tidak ingin menyesal. Seperti itu engkau selalu mampu menggoyahkan saya. Kesal sekali!

Maaf, tulisan ini harus saya sudahi sebelum orang-orang sekitar menanyakan sebab dari napas saya yang tersengal sekarang. Maaf, untuk perlakuan yang tidak semestinya beberapa waktu ini. Tolong biasakan dirimu dengan itu, sebab saya akan terus melakukannya hingga engkau merasa tak nyaman kemudian berjalan memunggungi saya. Terima kasih sudah menjadi satu dari banyak orang baik dalam hidup saya. Terima kasih sudah memberikan pengalaman jatuh (hati) yang menyenangkan. Saya tidak akan menulis lagi hingga dapat memastikan bahwa engkau tidak lagi menjadi nyawa disetiap tulisan saya.

 

Makassar, 18 Februari 2017

Chaa Chidot

Jatuh Hatilah Sekali Lagi

“Beberapa hari ini kau sering menjadi tempat mereka menumpahkan tawa dan tangis. Tidak lelah?”

“Tidak, saya senang. Saya senang karena mereka percaya pada saya.”

“Lalu, segala tawa dan tangismu kau tumpahkan ke mana?”

“semua tersimpan rapi, tidak tertumpah ke mana pun.”

“Tidak pernahkah terlintas untuk menemukan seseorang yang bersedia menjadi tempatmu menumpahkan segalanya?”

“Itu pernah saya lakukan. Kau tahu?”

“…”

“Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar peduli padamu. Mereka hanya penasaran, mereka mendengarkan segala tawa dan tangismu hanya untuk mengenyangkan rasa keingintahuannya. Itu saja. Setelah mereka tahu segalanya, lantas apa? Mereka hanya mengolok-olokmu, membuatmu menjadi sosok yang paling menyedihkan.”

“Tapi Kau juga tidak boleh menyimpan segalanya sendirian. Itu tidak baik bagi kesehatan psikologismu.”

“Mungkin nanti, tidak sekarang.”

“Sepertinya kau butuh jatuh hati sekali lagi.”

“Bisa jadi.”

“Sudah berapa lama kau mengabaikan kebutuhan hatimu? Jatuh hati itu suatu kebutuhan, hatimu berhak atas itu!”

“Entahlah, bagaimana cara menghilangkan rasa takut ini?”

“Orang lain di luar sana dapat dengan mudah memindahkan hatinya dalam waktu singkat. Mengapa kau tak bisa melakukannya?

“Saya bukan mereka, saya tak seperti mereka!”

Kemudian dia terdiam, mencari celah agar seseorang dapat menyentuh relungnya sekali lagi.

 

Makassar, 21 Januari 2017

Chaa Chidot

Telah Sampailah pada Sebuah Titik

Telah sampailah dia pada titik terbodoh yang pernah disinggahi. Titik di mana dirinya sendiri pun tak mengerti mengapa hal-hal bertahun-tahun silam bisa terjadi. Tak mengerti mengapa dia jatuh begitu dalam hingga nyaris kehabisan oksigen di dasar sana. Tak mengerti mengapa segala upayah dikerahkan hanya untuk memastikan bahwa laki-laki itu berada pada kondisi yang paling baik. Tak mengerti mengapa dia harus mendampingi laki-laki itu menapaki tangga menuju puncak impiannya padahal dia tahu bahwa ada seseorang lain yang dengan anggun menunggunya di atas sana. Tak mengerti mengapa waktu banyak dia habiskan untuk memastikan bahwa laki-laki itu bahagia setiap detiknya. Tak mengerti mengapa dia rela mengabaikan dirinya dan mengutamakan segala kepentingan laki-laki itu.

Telah sampailah dia pada titik keraguan. Ragu untuk membuka mata dan hati kembali setelah melepasikhlaskan debar-debar yang terawat bertahun-tahun silam. Ragu untuk percaya pada baik-baik yang dibangun di lingkungan sekitarnya. Ragu untuk menerima bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dijangkau oleh logika. Meragukan intuisi sendiri.

Telah sampailah dia pada kepasrahan. Menyerahkan segala baik dan buruk pada sang pencipta. Mempercayakan segala kebaikan untuk dirinya kepada sang pencipta. Merapatkan dahi pada karpet lusuh kemudian merapalkan banyak harap dan ingin. Semoga Engkau senantiasa mendengar dan mempertimbang segala harap dan inginnya, Tuhan, sebab satu-satunya dzat yang tak diragukannya hanyalah Engkau.

Sungguminasa, 7 Januari 2017

Sambil menahan gigil
Chaa Chidot

Seseorang Tanpa Genggaman

Pada satu waktu seseorang menggenggam tanganmu tanpa kau tahu. Kepadanya kau kisahkan tentang banyak hal yang ingin kau raih dalam hidupmu, tentang angan dan ingin orang tuamu, tentang hebatnya mimpi-mimpimu. Pada waktu yang sama, dia yang mengenggam tanganmu sedang sibuk menyimak antusiasmu sembari mengatur degup yang semakin tidak beraturan.

Pada waktu yang lain, seseorang merapatkan genggamannya tanpa kau tahu. Memastikan bahwa setiap langkah menuju mimpimu akan terasa menyenangkan bagimu. Memastikan bahwa batu-batu yang kadang menghalang tidak lantas membuatmu berhenti dan berbalik arah. Memastikan bahwa kau menapaki setiap tangga menuju mimpi yang kau gantung tinggi di langit dengan nyaman meski kadang tak aman. Memastikan bahwa segalanya kau lalui dengan penuh syukur.

Pada waktu berikutnya, genggaman lepas perlahan. Ketika segala ingin dan angan telah kau raih, seseorang memilih untuk melepas genggaman. Membiarkan engkau tersenyum dan memeluk seseorang lain di sana, merayariakan keberhasilanmu.

Kini, seseorang berjalan dengan tidak menggenggam sesuatupun dan tak juga mampu mencari tangan lain untuk digenggamnya, lagi.

 

Makassar, 29 Desember 2016

Seseorang yang tidak menggenggam sesuatupun.

Chaa chidot.

Menyesakkan saja!

“Kau tidak pernah bercerita tentang seseorang yang memikat hatimu,” katamu tiba-tiba.

“Kau tidak pernah menanyakannya, bukan?”

“Saya pikir kau tidak pernah terpikat dengan perempuan manapun, tidak pernah saya mendengarmu memuji satu perempuan pun.”

“Lantas, kenapa sekarang kau ingin tahu?”

“Saya hanya penasaran, ketika lelaki seusiamu pada umumnya sedang gemar memuji banyak perempuan, menggoda sana menggoda sini, mendekati yang ini dan yang itu, kau masih saja sibuk dengan dirimu sendiri, menikmati duniamu saja.”

“Kau lupa yaa, saya bukan lelaki pada umumnya.”

“Jadi, kau tidak tertarik pada lawan jenis?”

“Hey! Sembarangan yaa..”

“Hahaha. Tidak pernahkah ada satu perempuan yang menarik perhatianmu?” Kau menopang dagu sambil menatapku lekat. Tatapan itu, tepat di mataku. Mata berbinar yang sering saya nikmati diam-diam kini sedang tertuju padaku.

“Tidak, jika semua perempuan sepertimu; aneh dan menyebalkan.” Saya tertawa lalu segera beranjak dari kursi, mengusap lembut kepalamu kemudian meninggalkanmu dengan wajah yang berubah cemberut. Bahkan dengan wajah yang seperti itu binar matamu tidak pudar, hanya saja ia memang tidak cocok dipadukan dengan wajah cemberut, membuat dada saya terasa ngilu.

Ada sesuatu yang bertengkar dalam dada ketika kita bertemu. Menyesakkan saja!

Sungguminasa, 26 Juli 2015

-Chaa Chidot-

Seperti Saya, Engkau Jatuh dan Patah Hati!

“Kau masih dengannya?” Tanyaku membuka percakapan.
“Sepertinya tidak, dia akan menikah. Dia akan menikah setelah lebaran nanti,” jawabmu.
Ingin sekali kulihat matamu ketika kau menjawabnya, saya berada tepat di belakangmu, di atas motor yang melaju dari tempat kita melepas rasa lapar. Ah bodoh! Mana sanggup saya menatapmu, bukankah saya memutuskan untuk menanyakannya karena saya berada di belakangmu? Ya, saya belum sanggup menanyakannya di hadapanmu, sambil menatapmu.

“Serius? Dengan siapa?”
“Entahlah..”
“Memangnya kau dengar kabar darimana?”
“Dari dia, pesan singkat darinya.”
“Lantas, kau menjawab pesannya?”
“Iya, saya mengucapkan selamat dan meminta maaf karena tidak bisa memperjuangkannya.”

Sebenarnya, berita bahwa dia akan menikah dengan lelaki yang bukan kau sudah saya dengar dari seseorang. Hanya saja, entah kenapa, segala berita tentangmu yang saya dengar dari orang lain selalu ingin saya tahu kepastiannya darimu, langsung darimu.

“Saya sudah mengkonfirmasi berita ini kepada teman dekatnya. Teman dekatnya juga tidak tahu. Tapi, kata teman dekatnya, selama mereka berteman, dia perempuan yang tidak pernah berbohong. Jadi, kemungkinan besar berita ini benar.” Katamu melanjutkan.
“Hmm, are you okay?”
“Tidak masalah. Jika dia bahagia, saya juga turut bahagia.”
“Bohong! That’s a common bullshit! Saya termasuk orang yang tidak percaya dengan kalimat itu.”

Entah dengan alasan apa, saya ingin memastikan bahwa kau patah hati. Saya tahu kau patah hati, kau hanya tidak mau mengakuinya!

Dengan lugas kau menceritakan semuanya pada saya, semua yang ingin saya tahu. Awal kau bertemu, jatuh hati dan berniat menikahinya, hingga rencana kalian setelah menikah.

Dalam beberapa forum kalian bertemu, saling sapa kemudian saling mengagumi. — Tuan, dalam banyak forum kita bertemu, berbincang, kemudian saya mengagumimu. Bedanya, tidak ada kata ‘saling’ di sini. Tidak ada!

Toko buku menjadi tempat pertama kali kalian bertemu hanya berdua. Hanya kau dan dia. — Tuan, toko buku yang sama menjadi tempat pertama kali kita meluangkan waktu berdua, bepergian hanya berdua. Bedanya, hanya saya yang mengingat ini, kau pasti tidak. Benar-benar tidak ingat!

Dengan jujur dan polosnya dia mengatakan bahwa jantungnya berdebar kencang ketika berdua denganmu. — Tuan, saya menikmati debar jantung ketika denganmu, debarnya mampu membuat saya merasa nyaman. It feels like home! Bedanya, dengan egois saya tidak membiarkanmu tahu tentang ini. Saya menikmatinya sendiri, diam-diam!

Ada bahagia ketika kau bercerita tentang dia yang menulis sesuatu untukmu dengan segala keanehan yang unik pada dirinya. — Tuan, sudah lebih dari satu tulisan saya buat untukmu. Pernahkah kau sebahagia itu ketika membacanya? Seingat saya, tidak pernah!

Dia memintamu untuk menuliskan sesuatu setelah kau memberitahu tentang perasaanmu padanya dan kau melakukannya. — Tuan, berapa kali saya memintamu untuk membuat tulisan, atau sekedar membalas tulisan saya? Jawabmu selalu sama; kau tak pandai menulis. Bahkan katamu, kau lebih senang dengan bahasa lisan daripada bahasa tulisan.

Katamu; Dia bersedia bepergian denganmu karena dia percaya padamu. — Tuan, tidak pernah saya bepergian dengan seseorang dan merasa seaman ketika bepergian denganmu. Denganmu, saya percaya bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang buruk pada saya. Jelas kau tidak tahu tentang ini!

Dia ingin sekali menikmati alam dari ketinggian dan kau berjanji akan mengajaknya ketika kalian telah menikah. — Tuan, ajakan menikmati alam dari ketinggian adalah janjimu ketika kita sedang penat. Kau akan mengajak saya jika segala urusan kita telah rampung. Bedanya, kau berjanji ketika kau sedang penat, bukan ketika kau sedang jatuh hati. Dan saya yakin kau pasti sudah lupa dengan janji itu!

Setidaknya saya bisa menikmati engkau yang sedang jatuh hati, meski bukan kepada saya. Kita tidak jauh berbeda.
Engkau jatuh hati padanya seperti saya jatuh hati padamu. Sekarang, engkau patah hati karena dia memilih lelaki lain seperti saya patah hati karena engkau memilihnya.

Selamat patah hati, tuan!
Seperti inikah rasanya kalah?

Sungguminasa, 19 Juni 2015
-Chaa Chidot-