Kejutan

“Sip.” kataku.

Balon, lilin, kue, topeng-topengan. Semua telah siap. Kami akan mengagetkan mereka. Kami telah berencana memberi kejutan untuk sahabat kami dihari jadi pernikahannya. Ini tahun kedua pernikahannya, aku senang karena hingga kini tak sedikitpun ku dengar keluhan dari keduanya. Sepertinya mereka sangat bahagia walau belum dikaruniakan buah hati, mereka menikmati setiap moment berdua.

On Our Way, aku dan dua temanku berbincang tentang strategi nanti.
“Nanti kita pasang balonnya di kamar mereka saja, lampu kamar dimatikan, aku dan Toni stay dikamar mereka. Ami, biar kau yang berjaga diluar. Kalau mereka sudah datang segera kau ke kamar dan beri tahu kami.” Kataku dengan wajah sedikit serius yang diikuti dengan anggukan Toni dan Ami.
“Pokoknya kali ini harus sukses!” Ami tersenyum.

Sepanjang jalan menuju TKP dari balik kaca jendela mobil kulihat beberapa tempat kenangan ku bersama Sarah, wanita yang ku puja sejak masih kuliah dulu. Wanita yang selalu memberiku senyuman manis. Wanita yang selalu membuatku terpukau dengan cerita-ceritanya. Wanita yang selalu meredam kegalauanku dan membakarku dengan semangat yang tak pernah pudar darinya. Hingga akupun jatuh hati padanya, tapi aku seorang pengecut yang tak berani mengatakan rasaku.

Kulihat ruko itu, dipinggir jalan perintis kemerdekaan. Tempat kita berteduh sewaktu derai hujan datang tiba-tiba mengguyur aku dan Sarah yang dalam perjalanan mengantar Sarah pulang berkendara sepeda motor bututku. Saat itu kudengar dengan sangat jelas cerita Sarah tentang pria yang telah mencuri hatinya. Dia begitu memuja pria itu. Hingga akhirnya mereka menikah setelah menyelesaikan study. Pria itu tidak lain adalah sahabatku, Saldi.
Aku tak marah, hanya sempat kuberi peringatan sekaligus ancaman pada Saldi agar dia menjaga Sarah dengan baik, membahagiakan Sarah tanpa henti karena akau tak ingin melihat orang yang telah membuatku jatuh hati itu terluka.

Dan kini tiba di depan rumah mereka, Sarah dan Saldi.

“Jam berapa ini?” tanyaku.

“Jam 9 kurang 15 menit, Din. Biasanya mereka pulang  jam 10-an  jadi kita masih punya waktu untuk dekorasi.” jelas Toni.

“Oke, sesuai rencana ya.” lanjut Ami.

Kami langsung masuk ke rumah Saldi karena sebelumnya kami telah menjelaskan rencana kami pada pembantu rumah tangga di rumah itu dan dia bersedia membantu menyukseskan rencana kami. Pembantu itu memang sudah mengenal kami karena kami sering berkunjung untuk sekedar melepas penat atau menumpahkan rindu pada Saldi dan Sarah. Segera aku dan Toni mendekorasi, memasang beberapa balon disudut ruangan. Tak berapa lama Ami datang memberi tahu bahwa sang empunya rumah telah pulang. Kami bersiap, mematikan lampu, menyalakan lilin yang telah tertancap diatas kue, memasang topeng, daaannn……

“KEJUTAAANN…”
“Happy Anniversary..”

Teriak kami.

Kulihat Sarah tersenyum tapi ada yang aneh. Tak seperti biasanya. Senyumnya simpul, wajah dan bibirnya pucat. Ketika kutanya keberadaan Saldi, Sarah malah agak murung dan perlahan meninggalkan kami. Tanpa kata. Kulihat matanya seakan berkata “Terima kasih Didin, Ami, Toni. Terima kasih kejutan dan kunjungannya di tempat baruku.”

Seketika aku tersadar. Kami berada di Pemakaman Islam Sudiang. Sudah sebulan tanah yang agak basah ini menjadi pemukiman mereka pasca mobil dengan supir biadab itu menabrak rumah mereka dan memaksa Saldi, Sarah, dan seorang pembantu rumah tangganya berpindah ke Taman pemakaman ini.

 

Sungguminasa, 2 April 2011
~ icha chidot~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s