(Judul menyusul)

Diawali disini, tenang, berkawan dengan suara ombak dan deburan angin yang sesekali menerbangkan pasir. Disini, tak ada lagi kamu dan aku yang ada hanyalah KITA. Ku tumpahkan apa yang telah terkumpul dalam hati, menahun. Pun kamu.
Berharap ombak, angin, dan pasir mendengar dan suatu saat akan mengingatkan kita.
Manis…
Berawal dari sini, hariku tak lagi sepi, rinduku tak lagi mencari, malamku tak lagi sendiri, semua yang kulakukan beralasan : KITA DAN RASA DIANTARA KITA.

***

KITA. Rasa diantara kita, membawa kita ketempat yang sama. Tempat dimana kita mengawalinya. Ombak, angin, dan pasir tak ingkar. Mereka benar-benar mengingatkan, sesekali menginsyaratkan.
Hening. Hanya hembusan nafas yang terdengar samar, sahut-menyahut seperti berusaha mengumpulkan sesuatu untuk hal yang memang harus tapi sulit diucap.

“Jadi bagaimana?” Kataku hati-hati.
“Kuserahkan semua padamu.” Jawabmu lirih.
“Kamu lelaki, kamu harus memutuskan!”
“Apapun keputusanmu, akan berusaha ku ikhlas-kan.”
“Aku tahu kamu, pun sebaliknya. Tapi bagaimanapun ini problema yang harus kita temukan jalan keluarnya, sebelum semuanya menjadi terlalu kusut.”
“Aku mengerti, selama ini aku terus mencari jalan berharap menemukan jalan tol tapi…”
“Kita terhalang sesuatu yang sangat besar. Bukan dari pihakmu dan bukan pula dari pihakku. Dari pihak KITA.”

Hening kembali…
Seperti larut dengan suasana, dingin.
Kurasakan debaran dalam dadaku, seperti memaksaku untuk tegas, mengambil keputusan, secepatnya.. Sulit, sungguh pelik..

Tetiba kudengar beberapa bait lagu yang entah darimana asal muasalnya.
“Tuhan memang satu..
Kita yang tak sama…
Haruskah aku lantas pergi
meski cinta takkan bisa pergi..”    ~Marcel – Peri cintaku~

Aaahh, tak satupun dari kita yang tahu darimana lagu ini, apa Tuhan segera menekan tombol ‘play’ pada playlist-nya dengan sengaja ketika Dia melihat Kami disini berusaha merapikan sesuatu yang kusut dengan hati-hati berharap berhasil tanpa harus ada bagian yang rusak atau mungkin putus?
Dia memang Maha Tahu..

“Aku mau sudahi disini saja.” Kataku setengah berbisik, berharap kamu tak mendengarnya.
“Iya, terima kasih.” Jawabmu singkat.
“Aku masih temanmu kan?” Dengan ragu ku katakan sembari senyum simpul memohon agar potongan hatiku tak berserakan.
Kamu tersenyum, sambil menatap dalam mataku seperti berbicara yang hanya kamu yang tahu.

Sekarang, disini, ditempat yang sama, dengan ombak, angin, dan pasir yang kurasa tak lagi sama. Mereka bersedih mungkin kecewa, terasa saat tiba-tiba ombak membesar, angin mengencang dan pasir spontan beterbangan. Kamu memelukku erat. Demi rasa yang kehilangan arah.

***

Terinspirasi dari sepasang (mantan) kekasih
yang tak lain adalah sahabat-sahabatku…
Terima kasih..

***

Sungguminasa, 30 September 2011

icha chidot

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s