Surat untuk mbak Dini

Makassar, 22-25 Desember 2011

Teruntuk
Andini Dani Achmad

Sebenarnya ketika engkau minta dibuatkan surat, hal pertama yang menjadi pertanyaan adalah saya akan membuat surat yang seperti apa ? Surat dari seorang mahasiswi kepada dosennya, teman kepada temannya, adik kepada kakaknya, anak kepada orang tuanya, atau seorang ‘artis’ kepada follower-nya (πŸ˜› ) ?

Terlalu klasik jika diawal surat ini saya menanyakan kabar yang bisa dengan mudah saya dapatkan melalui fasilitas pesan singkat diponsel.πŸ™‚ Tapi ya sudahlah, terkadang yang klasik itu lebih berkesan.

Hay haloo mbak Dini, apa kabar? Apakah engkau sehat? Saya mendoakan engkau selalu dalam keadaan yang luar biasa sehat. Senang sekali rasanya saya diberi kesempatan untuk mengetik surat ini. Surat yang memang sudah saya rencanakan untukmu, pun sebelum engkau meminta untuk dibuatkan.πŸ™‚

Mengingat awal pertemuan kita di kelas waktu itu, engkau sebagai dosen dan saya adalah mahasiswi yang terlambat. Selanjutnya, engkau adalah dosen yang menyebalkan bagi saya, hari dimana jadwalmu mengajar adalah hari yang sempat tidak saya senangi. ^^v
Engkau tanya kenapa ? Ah, salahkan saja materi kuliah yang memang membosankan dan tak ingin bersahabat dengan saya atau salahkan memori otak saya yang tidak siap menjadi wadah untuk menampung materi tersebut.πŸ™‚

Tak lama, satu semester saja engkau melakoni peran sebagai dosen yang menyebalkan (versi saya). Setelah itu, entah berawal darimana, kita adalah teman, bukan? Atau saya saja yang menganggapnya demikian? Hhehee~

Oh iya, bagaimana kabar kuliahnya?
Proposal penelitian, thesis. apakah mereka baik padamu?
Beberapa hari ini linimasa sepi, engkau tak berkicau seperti biasa, membuat saya tak tahu harus mengganggu siapa tiap kali membuka twitter. Hhahaa~
Hanya sesekali saya melihat linimasa mu yang cukup rumit sepertinya. Satu sisi engkau masih menjalani kewajiban sebagai seorang mahasiswi pasca-sarjana. Di sisi lain engkau juga harus melaksanakan tugas dan tanggung jawab mu sebagai seorang ketua prodi, ibu dari mahasiswa/i yang engkau didik.Β  Belum lagi masalah pribadi yang hanya engkau yang tahu. Rumit memang, diusia mu yang sekarang sudah harus berpikir sekeras itu (kalimat yang ini sepertinya berlebihan..πŸ™‚ ).
Engkau luar biasa, salut saya padamu. Bukankah sudah sepantasnya saya mengkiblat kepadamu?

Mbak Dini,
Belakangan tak jarang engkau membahas tentang pernikahan. Tak banyak respon saya selain menjadikannya bahan bercandaan sebab terlalu minim pengetahuan saya tentang itu, maafkan. Dikesempatan ini saya ingin menyampaikan : Suatu hari nanti engkau akan menikah dengan laki-laki baik (adalah dia yang selama ini engkau harapkan bisa menjadi pendampingmu, menjadi imam mu, menjadi ayah dari ke-9 anak-anakmu kelak). Bukan hanya karena engkau perempuan baik, tapi karena engkau juga teman yang baik. Maka teman-temanmu akan mendoakannya bagimu dan Tuhan akan senantiasa mengabulkannya.
Dear mbak Dini,
Terimakasih saya padamu karena telah meminjamkan banyak buku bacaan yang secara tidak langsung mengajari dan menyadarkan saya akan banyak hal. Terimakasih juga sudah bersedia menjadi ‘gudang’ tempat saya mengambil ilmu dan menyimpan beberapa kisah saya. Semoga engkau tak bosan dengan itu.πŸ™‚
Dan Terimakasih karena engkau bisa menjadi teman makan dengan porsi yang luar biasa. Orang tak akan menyangka engkau memiliki nafsu makan yang super jika hanya melihat ukuran badanmu.πŸ˜€
Untuk ukuran teman yang belum lama saling mengenal, engkau membawa pengaruh besar bagi saya. Satu saja permohonan saya, kelak jika engkau menjadi seseorang yang lebih ‘besar’ dari sekarang. Sempatkanlah menoleh sesekali pada saya, hanya untuk sekedar tegur-sapa.πŸ™‚
Maafkan jika saya terlalu cerewet disini.
Ini sama sekali bukan surat cinta. Tapi ketika engkau merasa ada cinta seorang teman, sahabat, adik, atau apalah engkau menganggap saya dalam surat ini, mungkin itu memang benar. Maka, sukseslah dengan segala impianmu. Kejar ci(n)ta mu. Berjuanglah selalu untuk hidupmu, saya senantiasa mendoakan dan mendukungmu, mbak. Semoga Tuhan memudahkan jalanmu untuk meraih semua inginmu. Engkau akan menjadi perempuan paling bahagia dengan kehidupan yang baik. Entah kapan, tapi akan.πŸ™‚
Β 

Anak kecil yang mengaku temanmu,
~ ICHA ~

Β 
Note: Engkau punya hak istimewa untuk memanggil saya: Cicca’ . Itu karena engkau seorang dosen. Jika bukan, jangan harap saya mau disapa demikian.πŸ™‚

3 thoughts on “Surat untuk mbak Dini

  1. πŸ™‚ terimakasih suratnya Ciccaa’.,
    suratnya keren, bikin terharu.
    terimakasih penghargaan dan doa2nya..
    selalu, doa yang sama untukmu
    (termasuk yang punya anak sembilan–hhahaa~)

    anw, e-mail mu saya forward ke inbox orang terdekatku,
    katanya ‘great’. jempol buat tulisan kamu~

    sekali lagi terimakasih ya Ciccaa’.. ^_________^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s