BALASAN SURAT UNTUKMU – ANNISA NURUL PUTERI

Tidak gampang menulis sebuah surat ternyata -_-’ dan, rasanya agak aneh. Hhihihi~ Tapi tak apalah, demi janji membalas sebuah surat dari seorang Ichaa, saya rela, saya ikhlas mempekerjakeraskan otak saya🙂

Haloo Ichaa, bagaimana duniamu saat ini? Apakah segala yang ada di hidupmu masih sedang tidak stabil? Saya tidak akan mendoakan segala sesuatu di hidupmu stabil, tapi saya akan selalu mendoakan agar jiwamu selalu dalam keadaan yang paling baik.

Jika yang teringat untukmu tentang awal pertemuan kita adalah di ruang kelas, tapi untukku bukan di tempat itu. Saya bertemu dengan nama dan indeks prestasimu lebih dulu dibanding dengan bertemu sosokmu, dan kejadian itu berlangsung di ruang dekan. Namamu adalah satu-satunya dari sekian nama mahasiswa(i) Elektro yang melekat di ingatanku. Mungkin karena saya suka nama depanmu yang anehnya kamu tidak suka dipanggil dengan nama itu🙂 Katamu terlalu ‘kewanitaan’. Tidak begitu sukanya kah kamu dengan segala hal yang berbau ‘kewanitaan’? Hingga rok pun tak mau kamu kenakan🙂 [saran saya, coba deh pelan-pelan belajar pakai rok.. hhahaha~]. Satu semester sudah cukup untuk saya dapatkan berbagai informasi akademik darimu. Si peluncur, tempat teman-temanmu bergantung untuk jawaban ujian, mahasiswi yang pintar. Keliru-kah saya?

Lewat satu semester dan liburan tahun ajaran baru adalah saat dimulainya kedekatan kita. Teman anggapanmu?🙂 Lebih kurang seperti itu. Kita memang teman. Teman yang lebih kurang memiliki kebiasaan yang sama jika mood kita sedang buruk, berkeliling-keliling mall sendirian atau dengan menikmati banyak makanan di atas meja meski tentu saja yang terlihat nafsu makanku masih di atasmu (atau hanya karena kamu malu jadi tidak terlihat yang sebenarnya?).

Setelah kedekatan kita yang baru seumur jagung, tahukah kamu kalau bagiku kamu adalah sosok teman yang nyaman. Masih ingatkah kamu saat kita sms-an hingga hampir tengah malam karena rasa ‘ketidakenakanku’? Setelah sms-an denganmu rasanya plong, begitu nyaman, dan tidak adalagi ‘ketidakenakan’ yang terpikirkan..,  padahal, rasa itu muncul bukan untuk kamu seorang, dan bagiku ini sesuatu yang jarang terjadi. Lalu, mungkin kamu masih ingat pertanyaan, ‘kenapa saya?’ yang sempat kamu tanyakan kurang lebih sebulan lalu.. Karena saya merasa dekat denganmu, meski kamu lebih banyak diam. Bahkan, dengan diam-mu pun saya masih merasa nyaman. Entahlah, sepertinya saya merasakan banyak kesamaan antara diri ataupun kebiasaan kita.

Icha, pertanyaan yang saya tuliskan sebentar lagi adalah kesekian kalinya saya tanyakan. Bisakah saya melihat tulisan-tulisan yang ter-publish private di blogmu? Hhhahaa~ begitu penasarannya saya dengan ‘mereka’.. Semuanya karena tulisan-tulisan yang terpublish (umum) di blogmu bagiku adalah tulisan yang sangat berbakat, keren! Saya kagum dengan bakatmu, dan sepertinya sulit untuk saya bisa menyamainya.. [bahkan dalam menulis surat balasan inipun saya agak minder].

Yang saya sadari, kamu adalah sosok yang … tidak banyak bicara. Tentang masalah hidupmu sepertinya hanya secuil yang saya ketahui, langsung darimu dan tidak dari siapapun. Saya tidak bisa memaksamu untuk bercerita segalanya, tapi… kelak jika kamu ingin berbagi, apapun itu, silahkan. Silahkan cari saya, jika saya tidak ada di ruangan yang biasanya saya tempati, silahkan hubungi nomor telepon genggam saya🙂 insyaAllaah saya mendengarkan/menyimak sesibuk apapun saya. Dan jika suatu saat saya tidak mendengarkan/menyimak, tolong jangan marah, mungkin saat itu saya benar-benar tidak bisa mendengar/menyimak ceritamu dan itu bukan inginku.

Kemudian, tentang pertanyaan tentang hidupmu yang satu-dua kali kamu tanyakan ke saya, maafkan saya… saya tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Saya hanya mampu membantumu untuk mencari tahu, bukan mendapatkan jawabannya. Kembali cari tahu pada dirimu, sebenarnya apa yang sangat kamu inginkan? Apa yang kamu senangi? Apa tujuan hidupmu? Jika hingga detik ini kamu tidak tahu, tolong… cari tahu. Karena hal-hal itu yang menjadi pijakan penting untuk menentukan langkah hidupmu selanjutnya.

Icha, terimakasih yaa.. Terimakasih untuk semua penghargaan, doa, dan harapan darimu untukku. Semuanya itu berarti untukku, sama berartinya dengan sosokmu, entah itu sebagai seorang teman, sahabat, adik atau apalah itu bagiku. Setidaknya, dengan sosokmu dan teman-temanmu yang lain saya tidak merasa kesepian lagi di kampus biru itu :)) Dan, setidaknya… bertambah lagi teman jalan dan teman ceritaku..

Di surat ini, bolehkah saya bertanya dengan ke-soktahu-an ku? Benarkah feelingku kalau kamu amat menyukai pantai dan sunset? Selama kita dekat, tidak pernah kudengar hal-hal yang kamu sukai.. Tebakan ke-soktahu-an ku itu murni dari apa yang saya amati ketika satu-dua kali jalan denganmu. [hhahaa~ sotta]

Icha, jangan bosan-bosan menemaniku makan. Jika ingin jalan berkeliling-keliling Makassar dan butuh teman, jangan sungkan mengajak meski saya belum bisa membawa kendaraan (hhahaaa~). Kalau ingin bertanya mata kuliah yang tidak kamu mengerti, silahkan, siapa tahu saya bisa mengusahakan untuk cari tahu dan membantumu.

Maaf Icha.. saya bukan orang yang begitu pandai dalam tulis menulis. Sepertinya, suratku kali ini begitu belepotannya -_-’ tapi semoga kamu berkenan dan senang menerimanya🙂

Teruslah berusaha menjadi orang yang sukses. Saya yakin kamu bisa melebihi dirimu yang sekarang.. yakin kamu bisa melampaui saya, bisa saja hari ini, besok, atau kapanpun itu.

Dariku, sebagai apapun kamu menganggapku..

-Andini-

Rasanya tidak adil, ketika kamu tahu ada seseorang yang aku ‘sukai’ sedang saya sama sekali tidak tahu seseorang yang kamu ‘sukai’.. Entah kenapa, saya begitu yakin kalau seseorang itu ada🙂

Terima kasih sudah memandang saya ‘sehebat’ itu, dan sungguh saya tidaklah sehebat itu, saat ini saya juga masih belajar untuk survive di duniaku sendiri. AlhamduLillaah kalau ternyata saya bisa membawa pengaruh besar untukmu, semoga saja itu adalah hal yang positif. Jika ternyata adalah hal yang negatif, tolong tegur saya dan jadikan pelajaran.

like a burst of colors on the horizon,

like stars—far but always be there,

like the wind caressing leaves,..

i want to be those parables, in every life of you..

consciously unconscious.

but. just don’t know how to be it.

so.. tell me, until our Rabb Bless and Grace it.

[especially for every souls that are present in my life, seen unseen, forgotten unforgotten, i named you with what they call friends]

7 thoughts on “BALASAN SURAT UNTUKMU – ANNISA NURUL PUTERI

  1. hehehe…

    jangan hanya melihat dirimu pada cermin, karena cermin tidak seutuhnya menjawab siapa dirimu sebenarnya… tapi lihatlah dirimu dari sudut pandang orang-orang disekitarmu, you’ll find the right answer…

    u2 are real example 4 me…
    “keep moving forward!”_Walt Disney…

    • icha chidot berkata:

      Ahahaaa..
      kata-kata mu saya pinjam bang, “let the time answer it” ..😛

      saya tidak mengerti kenapa tiba-tiba membahas cermin ?😀

      • bkan j kata2ku… nda ku daftar p sebagai hak kekayaan intelektual… krn memang bukan… haha…

        begin from heart, even lots of jokes… you 2 become mirror for one another… i’m just the outsiders become know something bot u both…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s