Pinggiran rel kereta, pohon beringin, dan ceritanya

“Kenapa di tempat ini?”

Kau hanya tersenyum mendengar pertanyaan saya yang entah sudah berapa kali terlontar. Barangkali bagi kau, pertanyaan itu terlalu konyol untuk sebuah jawaban.

Ini bukan kali pertama kau mengajak saya bertemu di sini, tempat yang menyimpan banyak kenangan. Di sini saya dan kau menciptakan banyak angan, menuliskannya pada buku bersampul biru agak tebal bergambar pesawat yang kau beli di toko buku kecil depan sekolah. Katamu, kau terpaksa tidak jajan selama tiga hari demi membeli buku itu.

Hari ini pertemuan kita yang ketujuh setelah kepindahanmu. Pada pertemuan yang pertama kau memilih pinggiran rel kereta dengan alasan itu adalah tempat terakhir yang kau kunjungi sebelum pindah. Saya baru tahu kau sering berkunjung ke tempat itu jika sedang ingin menikmati kesendirian. Katamu, menyenangkan menikmati senja di sana. Tapi tidak bagi saya yang tidak biasa berada di tempat itu. Berada di bawah pohon beringin dengan angin yang tidak begitu kencang, langit yang perlahan menghitam dalam sunyi membangkitkan bulu kuduk.

Berikutnya saya meminta untuk tidak bertemu di tempat itu lagi.

“Tempat itu terlalu jauh dari rumah saya.” kata saya.

Alasan yang menurutmu konyol mengingat saya yang suka traveling. Ada jeda beberapa detik sebelum akhirnya kau memilih bertemu di sekolah dasar tempat kita berkenalan dulu. Saya menyetujui kemudian menyudahi perbincangan via telepon itu.

###

“Pertemuan keenam kita di tempat yang sama.”

“Akan saya ceritakan sesuatu. Kau mau mendengarnya?”

“Alasan kepindahanmu? Kenapa kau tak pernah mau menceritakannya pada saya? Kau juga tak pernah memberi tahu pada saya alamatmu yang sekarang. Kau tahu, bertahun-tahun saya mencarimu.  Cepat ceritakan!”

Kau kaget melihat saya yang tetiba ngotot dan memaksamu bercerita. Kau juga terlihat heran karena saya sudah tahu apa yang ingin kau ceritakan tapi begitulah saya. Saya mengenalmu sudah cukup lama, saya bisa membaca rona wajahmu, saya bisa tahu kegelisahanmu, kau sudah lebih dari sekedar sahabat bagi saya.

Kau menarik tangan saya, berlari memasuki ruang kelas empat. Saya ingat, dulu saya pernah berkelahi di sini, kau menangis di sudut kelas melihat kejadian itu. Kakak-kakak kelas itu berani mengganggumu maka sebagai sahabat saya pantas membelamu, melindungimu dari anak-anak nakal itu. Kita masih duduk di kelas dua kala itu, badan ceking saya habis dikeroyok oleh mereka, hidung saya mengeluarkan darah.

Dari dalam tas kecilmu kau mengeluarkan sebuah buku yang sangat saya kenali, buku biru bergambar pesawat itu kau letakkan di atas meja. Kau duduk dan mulai bercerita, saya menyimak dengan seksama sambil sesekali menatapmu. Kau tak seceria beberapa tahun lalu. Ada lelah diwajahmu, bibirmu memucat sesekali bergetar.

“Kau tahu saya memiliki seorang adik yang lain dari anak-anak pada umumnya, dia tidak mampu membentuk hubungan sosial dan berkomunikasi seperti anak normal. Autism membuatnya menjadi anak yang terisolasi, dia menikmati dunianya sendiri. Suatu hari ibu dan ayah saya bertengkar hebat. Ibu melihat ayah sedang berkencan dengan seorang wanita yang ibu kenal sebagai kakaknya, bude saya yang belum lama menjanda. Ibu melihat ayah berciuman dengan bude di sebuah kafe, setelah itu mereka pergi sambil berangkulan. Ibu murka, berbagai caci maki dia hamburkan pada ayah yang baru saja pulang. Pertengkaran terjadi, benda-benda di rumah dimanfaatkan sebagai senjata.”

Kau diam, berusaha mengontrol emosi dengan menghirup udara agak panjang lalu menghembuskannya perlahan. Kau lakukan itu beberapa kali sebelum melanjutkan ceritamu.

“Saya bersembunyi dalam kamar, menutup pintu kamar rapat-rapat. Rasa takut menguasai diri hingga lupa bahwa di luar ada adik saya yang sedang bermain. Karena tak ada yang memperhatikan, adik saya memainkan setrika yang saya tinggalkan dalam kondisi masih menyala. Dia menyetrika tangannya, melepuh hingga dagingnya terlihat.”

Kau tertunduk beberapa detik. Saya tahu kau menyesal. Barangkali sebuah pelukan bisa menenangkanmu.

“Pertengkaran berhenti ketika ibu mendengar teriakan adik saya yang kesakitan, perih mungkin. Saya pun keluar dari kamar karena teriakan itu. Saya tidak bisa membayangkan sakit dan panasnya dibakar oleh setrika seperti pada buku cerita neraka yang pernah saya baca. Karena tidak sanggup melihat, saya lari ke pinggiran rel kereta tempat saya biasa menikmati senja sendirian. Di bawah pohon beringin itu saya menangis, saya tidak tahu harus berbuat apa, tidak tahu harus menyalahkan siapa, tidak tahu harus ke mana dan mencari siapa. Saya terus menangis hingga sore berganti malam, hinggaaa….”

Kau berhenti bercerita. Raut wajahmu berubah, matamu memicing. Ada benci dan dendam di sana. Saya baru melihatmu sebenci itu.

“Sekumpulan pemuda brengsek berbau alkohol menghampiri saya, mulanya mereka merayu, menggoda saya dengan kekata dan sedikit belai. Saya menghindar, berteriak meminta tolong dan menyuruhnya untuk segera pergi. Mereka hanya tertawa sebab di sana terlalu sepi tidak terlihat seorangpun selain kami. Satu dari mereka memeluk saya kemudian memegang tangan saya, yang lain melucuti pakaian dan menyetubuhi saya bergantian sebelum akhirnya sayaaaa …”

Tetiba kau tertunduk menangis hingga terisak sambil berusaha melanjutkan ceritamu.

“Mereka memukul kepala saya. Saya jatuh tak sadarkan diri kemudian dengan cepat mereka menggali lubang dan menguburkan saya, menghilangkan jejak maksiat mereka tanpa peduli saya masih hidup atau sudah meninggal.”

Kau terisak, badanmu berguncang naik turun, pipimu basah.

“Brengsek! Laki-laki memang biadab!” teriak saya.

Tanpa banyak bicara lagi saya keluar, menyambar benda seadanya yang ada di kebun sekolah. Dengan penuh amarah saya berjalan menuju pinggiran rel kereta tempat pertama kali kita bertemu pasca ‘kepindahanmu’.
Sepanjang jalan pandangan orang-orang tertuju pada saya, perempuan tomboy berambut pendek sebahu dengan kaos dan jins belel membawa sekop dan berteriak memaki.

“BRENGSEK! Siapa yang berani berbuat serendah itu pada perempuan sebaik kau, siapa yang tega menghilangkan nyawa perempuan yang saya cintai! BIADAB, TERKUTUKLAH KALIAN!”

###

Ditulis untuk mengikuti proyek menulis #YUI17Melodies #FFHalloween

Berlatar di sekolah dengan kata kunci pohon beringin, bulu kuduk, darah, malam, dan sekop. Cerita dengan 880 kata.

One thought on “Pinggiran rel kereta, pohon beringin, dan ceritanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s