Liburan Hemat di Desa Lakkang

Minggu, 18 Nopember 2012, pukul 10:42 WITA, saya menerima pesan singkat dari seorang teman yang isinya ajakan untuk berkunjung ke Lakkang, satu desa yang terletak di delta sungai Tallo. Saya langsung meng-iya-kan sebab memang saya belum memiliki rencana untuk mengisi hari minggu ini, jadilah kami menyepakati untuk bertemu pada waktu dan tempat yang telah ditentukan.

Di kampus Universitas Fajar, pukul 13:00. Sambil menunggu beberapa teman lain saya, Adit, dan Zhul berbincang tentang tempat yang akan kami kunjungi. Diantara kami, hanya Adit yang pernah berkunjung ke sana bersama komunitas Jalan-Jalan Seru Makassar. Katanya, di sana sepi, pilihan yang bagus untuk menenangkan pikiran. Sepertinya keren bagi saya yang memang sedang mencari tempat yang tenang untuk men(y)epi(s). Saya langsung bersemangat.

Nyaris jam dua siang kami (saya, Anhy, Hannah, Zhul, Adit, Yudi, dan Arhul) berangkat menuju dermaga Unhas. Melalui dermaga Unhas kami menuju Desa Lakkang. Tidak langsung ke Desa Lakkang, beberapa menit kami harus menunggu perahu yang akan membawa kami ke sana sembari berbincang dan bergurau dengan beberapa orang (salah satunya adalah seorang ustadz yang akan khotbah pada acara pengajian ibu-ibu di sana, Ustadz Amri namanya) yang juga ingin ke tempat yang sama.

Sebenarnya, kendaraan yang membawa kami ke Desa Lakkang tidak nampak seperti perahu, bukan juga kapal. Hhhmmm, saya menyebutnya ‘papan kayu terapung bermesin’. Hehehee. Seperti ini bentuknya :

Gambar
foto dari : adliencoolz(dot)wordpress(dot)com

Sepanjang perjalanan menyusuri sungai untuk tiba di desa Lakkang kami isi dengan berbincang dan bergurau dengan ustadz yang menurut saya konyol, serta tentu saja sambil berfoto.

Gambar
Di atas ‘papan kayu terapung bermesin’.
Lelaki berbatik di sudut kiri adalah Ustadz Amri.

Hanya menyediakan biaya sebesar Rp 2.500,00 untuk sekali penyeberangan dengan susur sungai selama lima belas hingga dua puluh menit, kami disajikan pemandangan yang cukup menyegarkan mata.

Gambar
Sepanjang sungai membentang.

Tiba di desa Lakkang kami langsung menelusuri desa dan meninggalkan ustadz Amri yang harus menyelesaikan tugas khotbahnya. Hihihi.
Berjalan di tengah desa yang sepi tanpa suara warawiri kendaraan bermotor kemudian berjumpa dengan papan bertuliskan “Situs Bunker Jepang”, karena penasaran kami mendekat untuk melihat bunker yang dimaksud. Bunkernya tidak besar, mungkin karena sebagian sudah tertimbun reruntuhan. Dari atas, bunker tertutupi oleh guguran daun bambu.

bunker jepang

Yudi dan Zhul keluar dari Bunker Jepang.

Puas bermain-main dengan Bunker Jepang kami melanjutkan penelusuran, berjalan sambil menikmati kicau burung dan disapa dengan rerimbunan pohon bambu.

pohon bambu

saya di tengah gerombolan pohon bambu.

Memasuki rimbunnya pohon bambu, berbicara ini dan itu hingga menemukan sawah. Lelah menghampiri, kami putuskan untuk beristirahat di sawah yang kering sambil menyantap cemilan ala kadarnya yang kami bawa sebagai bekal diiringi suara gemuruh dan teriakan anak kambing.

cemilan

Istirahat. Bersantai sambil menikmati bekal.

sawah

Sawah kering tempat melepas lelah.

Desa Lakkang ini bersih, sampah tidak terlihat berserakan, jalan untuk akses dari rumah ke rumah sudah dipasangi paving block jadi tidak perlu becek-becekan lagi, pantas saja diberi penghargaan sebagai desa berprestasi. Sore menjelang, adzan ashar berkumandang, kami memutuskan untuk kembali ke dermaga bersiap untuk pulang. Entah ide siapa, sambil berjalan menuju dermaga kami membuat video, rencananya video itu akan dibuat layaknya video klip band Peterpan (yang sekarang jadi NOAH) ‘Menghapus Jejakmu’ yang dibintangi Dian Sastrowardoyo, tapi bedanya video kami berlatar sawah kering. hahaha. Dan akhirnya videonya tidak jadi karena kami kebanyakan gaya.๐Ÿ™‚

Di dermaga sambil menunggu ‘papan kayu terapung bermesin’ yang akan memulangkan kami dan ustadz Amri yang masih sibuk dengan pengajiannya (sebelumnya memang kami dan ustadz Amri sudah janjian untuk pulang bareng), kami menikmati es buah dan kue yang diberikan penduduk setempat (hidangan pengajian sepertinya).

Sebenarnya, di dermaga kami tidak sekedar menunggu kendaraan untuk pulang tapi juga menunggu dihampiri oleh rejeki. Hehehe. Dan benar saja, tidak berapa lama kami dipanggil oleh ustadz Amri untuk bersama-sama menyantap hidangan yang disajikan warga setempat.

santapan

Walaah, rejeki memang tidak lari kemana-mana. Mariii..!

Udang, ikan bakar, ikan yang yang dibungkus dengan pisang kemudian dimasak (entah apa namanya), sayur bening, racca mangga dan sambel mentah berhasil kami bantai sebelum akhirnya pulang dengan berbagai cerita. Hahahaa.

sayonara desa Lakkang.

Oiya, kami sedang mencari tempat liburan hemat untuk #1daytrip selanjutnya, adakah saran dari teman-teman? Ayo, share yaa..๐Ÿ™‚

ps: foto hasil jepretan Anhy dengan iphone dan instagramnya.

5 thoughts on “Liburan Hemat di Desa Lakkang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s