Bukan tentang hujan bulan juni

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Di kota saya, di selatan pulau berbentuk huruf k, di negeri para koruptor, hujan jatuh ketika sore menjelang. Ini oktober, tuan Sapardi, bukan juni yang tabah. Hujan di sini lebih gelisah, rintiknya turun ragu-ragu. Tak ada pohon berbunga, tak ada rintik rindu yang rahasia. Hanya gumpalan awan kelam, mendung dirundung luka.

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

Oktober bukan juni, ia peragu. Bijak selalu jauh darinya, bahkan untuk sekedar menetapkan jalan menuju ci(n)ta. Bijak hanya satu kata omong kosong yang tak berarti. Hujan bulan oktober lebih senang dengan janji buta, janji yang tak punya ketepatan. Ia lemah, menghapus jejak ragu di jalan adalah di luar kemampuannya. Bisakah seorang peragu menghapus jejak ragu di jalan, tuan Sapardi?

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Ini oktober, yang tak terucap dibiarkan memanas dalam dada, membakar hati, merubuhkan keyakinan, meluluhlantakkan pikiran. Arif itu apa? Hanya nama seorang anak laki-laki yang senang mencuri mangga.

Lalu, untuk apa hujan bulan oktober?

Sungguminasa, oktober 2013

Chaa Chidot

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s