Percakapan Sabtu Malam

“Jadi, sudah bertemu? Sudah dibicarakan?”
“Tidak bertemu, sedikit-banyak kami, barangkali hanya saya, membahasnya melalui pesan singkat. Saya berhasil berkomunikasi dengannya melalui media sosial.”
“Lalu?”
“Terjadi perdebatan, lebih tepatnya pelampiasan. Saya melampiaskan kekesalan padanya.”
“Bagaimana tanggapannya?”
“Dia meminta agar saya menjalani dengan ikhlas, toh segalanya sudah terjadi, tak bisa diulang.”
“…”
“Saya bukan tidak ikhlas, saya bukan menyesal, saya juga tidak bermaksud menyalahkan siapapun atas apa yang terjadi. Hanya saja, saya kesal dengan sikap dan perilakunya. Ini bukan pertama kalinya, kau tentu tahu jelas mengenai itu.”
“Kalian bertengkar?”
“Entah. Saya paham cara maklum pada baik dan buruk seseorang, tapi tidak pada yang tidak ingin belajar dari salah yang lalu.”
“Atas alasan apa dia bersikap seperti itu?”
“Saya tidak tahu, dan sepertinya tidak perlu tahu. Saya muak padanya. Bersembunyi ketika sedang dibutuhkan adalah sikap yang tidak terpuji bagi saya, seperti mencoba lari dari tugas dan tanggung jawab. Andai saja ini tidak menyangkut masa depan, andai saja tak ada ikatan tertulis, barangkali sudah lama saya tak ingin tahu apapun tentangnya.”
“Memutuskan silaturrahim maksudmu?”
“Barangkali demikian, setidaknya hingga rasa sakit ini hilang dengan sendirinya.”
“Kau ingat mengapa dulu memutuskan untuk terikat dengannya?”
“Iya, saya ingat. Bagaimana mungkin saya lupa dengan itu. Sebelumnya dia juga pernah melakukan hal yang sama, kala itu saya maklum dan berpikir barangkali dia tidak bermaksud untuk lari dari tugas dan tanggung jawab, tapi ada hal lain yang harus segera diselesaikan. Dengan pertimbangan karena ada kedekatan lebih, dan yang dijalani sekarang ini adalah hal serius, saya pikir dia tidak akan melakukannya lagi. Tak ada alasan untuk lari dari tugas, dan saya percaya kami bisa melaluinya dengan baik, bekerja sama dengan senang hati. Saya pikir bisa saling mengerti dengan mudah.”
“Menyesal?”
“Lebih kepada kecewa, kecewa dengan porsi besar. Dan barangkali, dia pun demikian terhadap saya.”
“…”
“Dia sempat menjanjikan sesuatu. Tanpa banyak berharap atas apa yang dijanjikannya, saya ingin lihat sejauh mana dia ma(mp)u mewujudkannya, sejauh mana dia bertanggung jawab pada pilihannya.”
“…”
“Dan kau tahu? Setelah saya bersusah payah mencari, dia datang tanpa rasa bersalah. Seperti tidak terjadi apa-apa, seperti tak pernah ada hujan dan gemuruh. Saya kesal, sungguh, saya kesal!”

Seseorang di kepala kemudian pergi, memberi kesempatan untuk saya menenangkan hati dalam sepi.

Sungguminasa, 21 Desember 2013

Chaa Chidot

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s