Bahasa Indonesia, Saya, dan Penyanyi Kesukaan

Sumpah Pemuda

Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Point ketiga pada sumpah pemuda yang pernah diajarkan di sekolah belakangan menjadi perhatian saya. Beberapa hari yang lalu saya terlibat pecakapan melalui bbm dengan seorang teman yang ditutup dengan kalimat “Bicara sm pecinta buku sama saja bicara sama dosen bhs indonesia *emoticon menguap*”. Saya tersentak dengan kalimat itu, spontan yang terlintas dipikiran adalah semembosankan itukah saya? Ya, saya sering menguap jika sedang bosan dengan celotehan dosen di kelas.

Di dunia, bahasa Indonesia memang tidak setenar bahasa Inggris dan Mandarin. Bahkan ada sekolah berstandar internasional di kota saya yang hanya mengajarkan bahasa Inggris dan Mandarin pada muridnya, tanpa mengajarkan bahasa Indonesia. Saya cukup maklum jika teman-teman lebih tertarik mendalami bahasa Inggris dan Mandarin lantas menganggap bahasa Indonesia begitu mudah dan membosankan karena mereka menggunakannya setiap hari. Tapi, tahukah bahwa Bahasa Indonesia menduduki peringkat ketiga di Asia dan peringkat ke-26 di dunia dalam hal tata bahasa terumit di dunia?

Tidak jarang juga saya mendengar teman-teman berbincang menggunakan bahasa daerah mereka. Sejujurnya, saya tidak begitu senang mendengarnya. Bukan karena mereka menggunakan bahasa daerah, tapi karena mereka menggunakannya di tempat yang kurang tepat. Menggunakan bahasa daerah ditengah orang-orang yang tidak mengerti dengan bahasa tersebut adalah hal yang tidak sopan bagi saya. Sama halnya jika dua orang berbisik-bisik sementara ada orang lain yang tidak dilibatkan.

Baca lebih lanjut

Iklan