Kalau Cinta Jangan Gengsi

“Itu, Icha sudah pulang.”

Kalimat pertama yang saya dengar setelah membuka pintu dan memberi salam ketika pulang dari kampus hari ini. Engkau sedang berbicara dengan seseorang yang kemudian saya tahu adalah anak sulungmu. Ponsel diserahkan pada saya.

“Ini, Opiq mau bicara.”

Segera saya mengambil ponsel dari genggamanmu.

Tidak lama, hanya sekitar lima menit saya berbicara dengannya. Anak sulungmu menanyakan apakah saya sudah membeli hadiah atau kue untuk ulang tahunmu hari ini? Dengan sedikit malu, saya katakan ‘belum’ yang diiringi dengan kata ‘kenapa?’ darinya. Saya katakan alasannya dan kemudian disambut baik olehnya. Anak sulungmu meminta saya membeli sesuatu di hari istimewamu.

Tadi pagi, ketika pamit untuk berangkat ke kampus, saya ingat hari ini tanggal tujuh november adalah hari kelahiranmu, hanya saja saya malu (atau mungkin gengsi) untuk sekedar memberi ucapan selamat, padahal anak bungsumu berpamitan sembari mencium pipimu dan mengucapkan selamat ulang tahun.

Ibu, anakmu ini masih terlalu gengsi menunjukkan rasa cintanya padamu, maafkan. Bahkan untuk sekedar bercerita tentang resah dan gelisahnya pun enggan. Bukan, saya bukan tidak percaya, hanya saja saya tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya padamu. Bodohnya lagi, saya lebih tahu cara berkeluh pada orang lain yang mengaku teman, atau pada sosial media yang dapat dibaca oleh banyak orang.

Maka, kali ini akan saya ceritakan sedikit tentang sesuatu pencipta resah, pemicu gelisah saya beberapa hari belakangan. Engkau pasti tak tahu bahwa ada seseorang yang menjadi tempat jatuhnya hati anakmu. Seorang lelaki yang dekat dengan anakmu beberapa tahun belakangan. Bagi anakmu, dia lelaki baik dan menyenangkan. Beberapa hari yang lalu anakmu mendengar kabar bahwa lelaki itu telah jatuh hati pada seorang gadis manis yang (in syaa Allah) baik akhlaknya. Tidak perlu dipaparkan lagi bagaimana desirnya jantung hati ketika kabar itu terdengar. Ingin rasanya sesuatu membasahi pipi, tapi entah mengapa tak ada yang basah hingga saat ini. Ini konyol, betapa anakmu sadar bahwa hatinya telah jatuh tapi tak mengerti cara untuk membuat dia tahu. Lagi-lagi, barangkali ini perkara malu, atau gengsi, atau bisa jadi takut. Kenapa gengsi tumbuh subur pada diri anakmu? Padahal seharusnya, cinta kepada siapapun tak perlu diselimuti dengan gengsi, kan?

Ibu, sekarang anakmu sedang belajar ikhlas, belajar menerima bahwa yang memang bukan miliknya tidak akan pernah menjadi miliknya, pun sebaliknya. Setiap hari, anakmu berusaha mengontrol diri, menahan rasa-rasa yang berlebih di dada. Tenang saja, ibu, hal-hal seperti ini masih bisa saya atasi sendiri tanpa harus merepotkan engkau.

Ah ya, ada berapa kesempatan mencium pipimu dalam setahun? Kalau tidak salah hitung hanya ada empat kesempatan; ketika idul fitri, idul adha, ulang tahun saya, dan ulang tahunmu. Tahun ini, saya dapat bonus satu kesempatan lagi; ketika saya menujumu membawa medali dan mengenakan toga. Terima kasih, saya senang sekali.🙂

Untuk segala harapmu, sabar saja. Akan segera saya penuhi satu per satu, pelan-pelan. Maaf, hadiah ulang tahun yang engkau berikan untuk saya waktu itu belum sempat dibacatuntaskan, padahal engkau berpesan untuk segera dibaca dan diamalkan. Sesegera mungkin akan saya tuntaskan.

Selamat ulang tahun, ibuku sayang!
In syaa Allah, saya tidak gengsi lagi. Saya mencintaimu, sungguh.

Sungguminasa, 07 November 2014
Dengan segenap cinta,

Annisa Nurul Puteri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s