Seperti Saya, Engkau Jatuh dan Patah Hati!

“Kau masih dengannya?” Tanyaku membuka percakapan.
“Sepertinya tidak, dia akan menikah. Dia akan menikah setelah lebaran nanti,” jawabmu.
Ingin sekali kulihat matamu ketika kau menjawabnya, saya berada tepat di belakangmu, di atas motor yang melaju dari tempat kita melepas rasa lapar. Ah bodoh! Mana sanggup saya menatapmu, bukankah saya memutuskan untuk menanyakannya karena saya berada di belakangmu? Ya, saya belum sanggup menanyakannya di hadapanmu, sambil menatapmu.

“Serius? Dengan siapa?”
“Entahlah..”
“Memangnya kau dengar kabar darimana?”
“Dari dia, pesan singkat darinya.”
“Lantas, kau menjawab pesannya?”
“Iya, saya mengucapkan selamat dan meminta maaf karena tidak bisa memperjuangkannya.”

Sebenarnya, berita bahwa dia akan menikah dengan lelaki yang bukan kau sudah saya dengar dari seseorang. Hanya saja, entah kenapa, segala berita tentangmu yang saya dengar dari orang lain selalu ingin saya tahu kepastiannya darimu, langsung darimu.

“Saya sudah mengkonfirmasi berita ini kepada teman dekatnya. Teman dekatnya juga tidak tahu. Tapi, kata teman dekatnya, selama mereka berteman, dia perempuan yang tidak pernah berbohong. Jadi, kemungkinan besar berita ini benar.” Katamu melanjutkan.
“Hmm, are you okay?”
“Tidak masalah. Jika dia bahagia, saya juga turut bahagia.”
“Bohong! That’s a common bullshit! Saya termasuk orang yang tidak percaya dengan kalimat itu.”

Entah dengan alasan apa, saya ingin memastikan bahwa kau patah hati. Saya tahu kau patah hati, kau hanya tidak mau mengakuinya!

Dengan lugas kau menceritakan semuanya pada saya, semua yang ingin saya tahu. Awal kau bertemu, jatuh hati dan berniat menikahinya, hingga rencana kalian setelah menikah.

Dalam beberapa forum kalian bertemu, saling sapa kemudian saling mengagumi. — Tuan, dalam banyak forum kita bertemu, berbincang, kemudian saya mengagumimu. Bedanya, tidak ada kata ‘saling’ di sini. Tidak ada!

Toko buku menjadi tempat pertama kali kalian bertemu hanya berdua. Hanya kau dan dia. — Tuan, toko buku yang sama menjadi tempat pertama kali kita meluangkan waktu berdua, bepergian hanya berdua. Bedanya, hanya saya yang mengingat ini, kau pasti tidak. Benar-benar tidak ingat!

Dengan jujur dan polosnya dia mengatakan bahwa jantungnya berdebar kencang ketika berdua denganmu. — Tuan, saya menikmati debar jantung ketika denganmu, debarnya mampu membuat saya merasa nyaman. It feels like home! Bedanya, dengan egois saya tidak membiarkanmu tahu tentang ini. Saya menikmatinya sendiri, diam-diam!

Ada bahagia ketika kau bercerita tentang dia yang menulis sesuatu untukmu dengan segala keanehan yang unik pada dirinya. — Tuan, sudah lebih dari satu tulisan saya buat untukmu. Pernahkah kau sebahagia itu ketika membacanya? Seingat saya, tidak pernah!

Dia memintamu untuk menuliskan sesuatu setelah kau memberitahu tentang perasaanmu padanya dan kau melakukannya. — Tuan, berapa kali saya memintamu untuk membuat tulisan, atau sekedar membalas tulisan saya? Jawabmu selalu sama; kau tak pandai menulis. Bahkan katamu, kau lebih senang dengan bahasa lisan daripada bahasa tulisan.

Katamu; Dia bersedia bepergian denganmu karena dia percaya padamu. — Tuan, tidak pernah saya bepergian dengan seseorang dan merasa seaman ketika bepergian denganmu. Denganmu, saya percaya bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang buruk pada saya. Jelas kau tidak tahu tentang ini!

Dia ingin sekali menikmati alam dari ketinggian dan kau berjanji akan mengajaknya ketika kalian telah menikah. — Tuan, ajakan menikmati alam dari ketinggian adalah janjimu ketika kita sedang penat. Kau akan mengajak saya jika segala urusan kita telah rampung. Bedanya, kau berjanji ketika kau sedang penat, bukan ketika kau sedang jatuh hati. Dan saya yakin kau pasti sudah lupa dengan janji itu!

Setidaknya saya bisa menikmati engkau yang sedang jatuh hati, meski bukan kepada saya. Kita tidak jauh berbeda.
Engkau jatuh hati padanya seperti saya jatuh hati padamu. Sekarang, engkau patah hati karena dia memilih lelaki lain seperti saya patah hati karena engkau memilihnya.

Selamat patah hati, tuan!
Seperti inikah rasanya kalah?

Sungguminasa, 19 Juni 2015
-Chaa Chidot-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s