Telah Sampailah pada Sebuah Titik

Telah sampailah dia pada titik terbodoh yang pernah disinggahi. Titik di mana dirinya sendiri pun tak mengerti mengapa hal-hal bertahun-tahun silam bisa terjadi. Tak mengerti mengapa dia jatuh begitu dalam hingga nyaris kehabisan oksigen di dasar sana. Tak mengerti mengapa segala upayah dikerahkan hanya untuk memastikan bahwa laki-laki itu berada pada kondisi yang paling baik. Tak mengerti mengapa dia harus mendampingi laki-laki itu menapaki tangga menuju puncak impiannya padahal dia tahu bahwa ada seseorang lain yang dengan anggun menunggunya di atas sana. Tak mengerti mengapa waktu banyak dia habiskan untuk memastikan bahwa laki-laki itu bahagia setiap detiknya. Tak mengerti mengapa dia rela mengabaikan dirinya dan mengutamakan segala kepentingan laki-laki itu.

Telah sampailah dia pada titik keraguan. Ragu untuk membuka mata dan hati kembali setelah melepasikhlaskan debar-debar yang terawat bertahun-tahun silam. Ragu untuk percaya pada baik-baik yang dibangun di lingkungan sekitarnya. Ragu untuk menerima bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dijangkau oleh logika. Meragukan intuisi sendiri.

Telah sampailah dia pada kepasrahan. Menyerahkan segala baik dan buruk pada sang pencipta. Mempercayakan segala kebaikan untuk dirinya kepada sang pencipta. Merapatkan dahi pada karpet lusuh kemudian merapalkan banyak harap dan ingin. Semoga Engkau senantiasa mendengar dan mempertimbang segala harap dan inginnya, Tuhan, sebab satu-satunya dzat yang tak diragukannya hanyalah Engkau.

Sungguminasa, 7 Januari 2017

Sambil menahan gigil
Chaa Chidot

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s