Pada satu sore dibulan ketiga tahun masehi

Pada satu sore yang teduh di pekarangan rumah, anak perempuan sedang menghiasi tanah yang telah di letakkannya pada sebuah wadah kecil mirip panci, dia sedang bermain masak-masakan dan menata bunga-bunga di atasnya sebagai garnish. Sebuah bola sepak yang ditendang oleh seorang anak lelaki membuat dapur yang ditata anak perempuan berantakan sedemikian rupa, tangis pecah diiringi langkah kaki yang kian cepat mendekati saya. Anak perempuan mengadukan perbuatan saudara lelakinya yang telah merusak dapur-dapurannya.

Terdengar suaramu tegas memanggil si anak lelaki dan mengajarinya untuk meminta maaf karena telah merusak permainan saudara perempuannya. Anak lelaki menurut, dia mendatangi saudara perempuannya dan mengulurkan tangan untuk meminta maaf. Anak perempuan masih tersedu dan enggan untuk menerima uluran tangan saudaranya. Saya katakan padanya bahwa hanya orang-orang pemberani yang mau meminta maaf dan hanya orang-orang mulia yang selalu mudah memaafkan. Mereka bersalaman dan saling memaafkan. Kita tersenyum bangga, mereka yang akrab menyapa kita dengan sebutan eyang kakung dan eyang putri kini tumbuh menjadi manusia berbudi luhur.
Engkau kembali duduk dan melanjutkan bacaan lembar demi lembar berita hari ini. Saya mengajak dan membantu dua kakak beradik merapikan mainannya yang berantakan.
Pada satu sore dibulan ketiga tahun masehi, bersama mereka yang kalian sebut cucu.

Sungguminasa, 9 Maret 2017

Sambil merajuk niat belajar,
Chaa Chidot

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s