Sepatu, siapa dirimu?

sepatu

Ini hanya sepatu, tapi bisa menunjukkan siapa dirimu. Sepatu jenis ini sudah saya kenakan sejak masih sekolah. Terkesan tomboy memang, tapi ini yang membuat nyaman ketika beraktifitas. Mulai dari jalan kaki hingga naik turun angkot, dari mengikuti upacara bendera hingga memanjat pagar karena terlambat, dari berolahraga hingga diam-diam bolos sekolah. Bahkan saya mengenakannya pada pesta pernikahan, berpadu dengan dress. Iya, dress! Saya ingat betul waktu itu, orang-orang memandang aneh padahal saya merasa biasa saja. Sudah terlanjur nyaman rupanya.

Dua tahun belakangan saya meninggalkannya, mencoba sepatu yang lain. mencari nyaman pada yang lain. Mencoba sepatu V yang sedang hits. Keren juga dipadukan dengan gaya berpakaian saya yang tidak stylist. Masih jenis yang sama; sneaker. Harga tidak jauh beda dengan sepatu yang sering saya gunakan, hanya saja ia terlau berat, membuat kaki saya sering terasa keram, seperti sedang dikerumuni semut sekampung. Kalau kakimu terinjak olehnya mungkin bisa memar berhari-hari. Sayangnya, sepatu ini belum mampu mengikuti ritme aktifitas saya. Dipakai setahun solnya sudah rusak, warnanya pudar. Kemudian saya beralih ke sepatu W, ini cukup feminim. Harga sepatu ini sedikit lebih murah dari dua sepatu sebelumnya. Modelnya yang flat dan teknologi apalah pada sepatunya membuat ia terasa begitu nyaman digunakan sehari-hari. Sepatu ini juga cukup ringan dan mudah dipakai. Hanya saja warnanya pudar setelah saya cuci dan ia terlihat kumuh dengan warna seperti itu.

Tahun ini saya memutuskan untuk kembali pada sepatu yang menemani aktifitas saya sejak masa sekolah dulu. Senang sekali, mungkin seperti ini rasanya balikan sama mantan yang ternyata masih cinta. Saya gagal move on! Sudah berusaha menyamankan diri dengan sepatu yang lain tapi ternyata sepatu yang lama memang belum bisa tergantikan. Terlalu nyaman! Sepatu yang sering saya gunakan bertahun-tahun tanpa ganti. Satu sepatu biasanya bisa digunakan selama sekitar dua tahun. Harganya cukup mahal bagi mahasiswa seperti saya, tapi karena kuat dan awet maka terasa cukup irit. Ada harga, ada rupa. Satu hal lagi yang saya senangi dari sepatu ini adalah semakin kucel maka ia terlihat semakin keren. Saya memang tipikal yang sulit berpindah jika sudah merasa nyaman. Bukan hanya untuk urusan sepatu, pakaian, teman, lingkungan, dan apapun yang membuat saya merasa nyaman juga demikian. Meninggalkan zona nyaman? Saya rasa itu tidak pernah berhasil dilakukan oleh siapapun.

Faktanya, kita tidak pernah benar-benar meninggalkan zona nyaman. Yang terjadi adalah kita hanya berpindah dari satu zona nyaman ke zona (lebih) nyaman yang lain. Seperti yang saya lakukan pada sepatu. Sudah nyaman menggunakan Converse tapi mencoba mencari nyaman pada sepatu yang lain. Akhirnya, saya kembali pada Converse karena tidak menemukan sepatu yang lebih nyaman dari itu. Yang baru mungkin membuatmu nyaman, tapi tidak mampu menjadi senyaman yang lama.

Fakta berikutnya adalah saya gagal move on. Damn!

 

Sungguminasa, 28 Juni 2017

Chaa Chidot

Iklan

Sebuah Usaha Melawan Ego

Bu, saya mau kuliah lagi. Pendaftaran di kampus ‘itu’ sudah dibuka.

Kira-kira seperti itu saya menyampaikan niat saya kepada ibu. Ini kali kedua saya menyampaikan niat untuk kuliah di pulau Jawa dan kali kedua juga ibu saya menolak. Jika dulu ditolak dengan alasan saya anak perempuan dan tidak boleh jauh-jauh dari pengawasan orang tua, sekarang alasannya berbeda; kesehatan orang tua. Iya, waktu itu bapak memang belum lama keluar dari rumah sakit dengan kondisi fisik yang tidak sesehat sebelumnya. Dengan alasan tidak ada yang membantu ibu merawat bapak, maka saya tidak mendapat izin untuk kuliah di Jawa. Tapi saya boleh kuliah lagi, hanya saja tidak boleh ditempat yang jauh, di sini saja, di kota ini saja.

Kecewa? Pasti. Terlebih saya sudah mempersiapkan untuk melaksanakan tes toefl dan tpa sebagai syarat pendaftaran di kampus itu. Mau bagaimana lagi, alasan ibu terlalu masuk akal dan masuk hati. Kondisi memang sedang tidak pas untuk meninggalkan orang tua.

Niat untuk kuliah lagi sempat ingin diurungkan sampai akhirnya saya teringat keinginan bapak sejak dulu. Iya, sejak dulu ketika lulus sekolah menengah atas, bapak ingin saya melanjutkan pendidikan di kampus yang berlambang ayam jantan di kota ini. Keinginan itu tidak saya kabulkan sebab saya menginginkan kampus yang lain. Melihat kondisi bapak sekarang, tidak ada salahnya saya mengabulkan keinginan lama bapak. Kebetulan pendaftaran untuk jenjang pascasarjananya juga sudah dibuka.

Dengan bantuan orang-orang terdekat, saya mendaftar dan mengikuti tes di kampus ayam jantan itu. Dengan doa dan bantuan mereka pula saya akhirnya berkesempatan menjadi salah satu mahasiswi di sana. Alhamdulillah, meski masih setengah hati saya terima, langsung saja saya perlihatkan keterangan lulus itu kepada bapak, berharap bapak senang dan bersemangat agar cepat pulih. Meski pada akhirnya saya hanya menambah beban pikir bapak terkait biaya perkuliahan. Untung ada kakak saya yang bersedia membantu. Awalnya berniat mencari beasiswa, tapi urung karena saya tak diizinkan merantau. Payah sekali mental saya ini!

Awal semester dijalani dengan rasa terpaksa. Merasa terpaksa untuk menimba ilmu ditempat yang tidak saya inginkan. Andai kau tahu rasanya belajar dalam keadaan terpaksa. Berat sekali, sungguh! Masuk di gerbang kampus saja sugesti pikiran saya sudah ‘welcome to the hell!’ dengan sendirinya. Barangkali ini yang menyebabkan nilai-nilai semester awal saya kurang baik. Tidak ikhlas dalam menuntut ilmu!

Sekarang semester dua telah selesai, yang artinya saya harus bekerja lebih keras lagi untuk menaklukkan si imut menggemaskan yang oleh mereka disebut thesis, melakukan penelitian. Tugas akhir untuk mahasiswa pascasarjana, syarat agar dapat melepas status mahasiswanya. Beberapa waktu lalu saya sempat meminta bapak untuk menghadiri wisuda saya yang kedua nanti (entah kapan, tapi akan) sebab wisuda saya yang pertama tidak sempat dihadiri olehnya karena urusan pekerjaan. Akan sangat mengecewakan jika wisuda saya nanti juga tidak dihadiri olehnya sebab wisuda ini adalah hasil dari usaha saya melawan ego. Melawan keinginan menahun (menjadi anak rantau) untuk kepentingan bersama. Mengubah keterpaksaan menjadi keikhlasan yang diselimuti syukur; saya bisa menemani ibu merawat bapak dan tetap kuliah sambil bekerja. Meski penghasilan belum mampu menyumpal tagihan spp, setidaknya ia mampu mengisi tangki bensin kendaraan saya.

Satu waktu saya berjanji pada diri sendiri; Jika nanti bapak tidak bisa hadir pada wisuda kedua saya dengan alasan apapun, saya akan sekolah lagi dan wisuda lagi sampai bapak bisa menghadirinya!

Sungguminasa, 13 Juni 2017

Di tengah kekusutan pikiran tentang thesis
-Chaa chidot-