Kepada Perempuan Kesayangan

Di luar sedang hujan, ini desember, memang sudah waktunya untuk hujan. Di sini, dua perempuan sedang menahan gigil, membungkus diri dengan selimut. Cuaca seperti ini jika tidak didukung dengan kekebalan tubuh yang baik akan mudah membuat siapa saja jatuh sakit. Saya dan ibu contohnya.

Mulanya, saya yang terserang flu dan batuk. Hidung mampet serta batuk beruntun membuat dada sesak dan sulit bernapas. Berkali-kali disuruh menelan obat oleh ibu tapi berkali-kali juga saya menolak, hingga saya merasa tersiksa sendiri dan akhirnya menelan butiran obat. Cuma flu dan batuk tapi cukup untuk membuat saya paham betapa sehat itu menyenangkan. Belum juga saya pulih, ibu tertular penyakit yang sama dari saya. Sepertinya memang sulit untuk tidak tertular mengingat setiap hari, pagi hingga malam, kita berinteraksi.

Tadi saya bangun agak siang dan mendapati rumah sepi dan berantakan, biasanya jam segitu rumah sudah rapi atau setidaknya terdengar berisik tanda ibu sedang merapikan rumah. Karena heran, saya turun dan celingak celinguk kemudian mendapati ibu dalam kamar sedang mencoba menghangatkan diri dengan selimut. Seperti saya, ibu juga sedang menahan gigil. Saya sempatkan menyapu sebisanya sebelum kembali ke kamar saya. Selepas dzuhur terdengar suara ibu meminta saya untuk turun. Oh iya, saya satu-satunya penghuni lantai atas dan kamar saya adalah satu-satunya kamar, selain kamar mandi, di lantai atas. Kamar yang tidak besar tapi cukup nyaman untuk menikmati banyak waktu. Kadang saya merasa seperti anak kost yang hanya ke luar dari kamar jika perut butuh asupan. Panggilan ibu tadi ternyata untuk menyuruh saya makan.

Saya lihat ibu sedang di dapur, mengenakan jaket, menyiapkan bubur untuk saya dan saya tolak kemudian bilang kalau saya sedang kedinginan yang disambut dengan perintah minum obat oleh ibu. Saya abaikan sambil beranjak masuk ke kamar adik untuk menyalakan televisi. Belum juga menemukan remote tv, ibu menyusul masuk membawakan obat dan air hangat. Duh! Saya jadi tak enak hati.

Betapa saya merasa berdosa atas sikap saya tadi. Dalam keadaan sakit, ibu masih mengurus dan merawat saya yang juga sakit. Sementara saya cuma melihat ibu menahan gigil di kamar tanpa melakukan apa-apa bahkan sekadar menanyakan keadaan dan kebutuhannya pun tidak. Ibu memasak agar saya bisa makan tapi saya menolak, padahal ibu melawan gigil untuk melakukannya. Maafkan saya, bu.

Saya memang belum menjadi anak yang bisa diandalakan. Bahkan untuk sekadar menanyakan keadaan ibu pun saya masih enggan. Sementara ibu tidak pernah lupa menanyakan keadaan saya, apa yang saya butuhkan, bagaimana kelanjutan urusan akademik saya, apa kendala saya, dan lain sebagainya.

Tentang urusan akademik, maafkan saya, ibu. Saya belum bisa menjanjikan apapun, saya belum tahu kapan bisa merampungkannya. Maafkan saya yang selalu melibatkan emosi, meninggikan suara tiap kali ibu menanyakan itu. Percayalah bahwa saya selalu berusaha untuk menyelesaikannya. Saya sedang berusaha menyelesaikan segala urusan saya, bu. Terima kasih untuk segala doa yang engkau pintakan pada Tuhan dalam sujudmu. Doa-doa baik untuk kami, anak-anakmu. Terima kasih untuk kasih sayang dan perhatian yang tak terputus. Sungguh, tak ada yang bisa membalasnya. Semoga Allah senantiasa mendengar dan mengabulkan doa-doa baikmu. Semoga engkau selalu dalam lindungan-Nya. Semoga dilimpahkan-Nya kesehatan dan umur panjang bagimu agar engkau bisa terus mengiringi anak-anakmu dengan doa, agar kami bisa terus berusaha membuatmu bahagia.

Semoga saya sehat, kuat, dan mampu merampungkan semuanya sesegera mungkin, untukmu. Saya mencintai engkau, ibu, meski tak pernah saya katakan langsung dihadapanmu.

Sayang dan hormat saya,

Annisa Nurul Puteri

Iklan

Teman-teman Kecil

Beberapa bulan belakangan saya lebih banyak melalui hari di rumah bersama ibu, adik, dan bapak. Tidak banyak (seharusnya banyak) yang bisa dilakukan mahasiswi semester tua seperti saya yang sudah tidak harus ke kampus setiap hari untuk kuliah di kelas dari pagi hingga sore hari. Saya hanya harus ke kampus pada hari rabu untuk mengikuti dua kelas, selebihnya saya nikmati segalanya di rumah, sesekali berjalan-jalan jika ada teman yang mengajak.

Berdiam di rumah tidak lantas membuat saya sering diserang rasa bosan, sebab memasuki siang hari selepas Dzuhur, satu persatu anak-anak tetangga berdatangan ke rumah saya. Mau apa mereka di rumah saya? Jawabannya adalah numpang belajar, les lebih tepatnya.

Ibu saya mengisi waktu luangnya dengan menemani dan membantu anak-anak tetangga belajar, mulai dari belajar membaca, berhitung, hingga mengerjakan tugas sekolah. Orang tua anak-anak itu umumnya tidak sabaran ketika menemani anaknya belajar dengan berbagai alasan, misalnya anaknya susah diajak belajar atau jika sedang belajar bersama ibunya, anaknya bandel dan suka ngeyel kalau diberitahu. Jadilah rumah saya seperti taman bermain anak-anak dari siang hingga maghrib menjelang.

Terkadang saya kesal dengan anak-anak itu, berisik membuat tidur siang saya terusik. Tidak jarang ibu saya mengomel karena ulah mereka.  Hahaha. Baca lebih lanjut